Tuesday, 16 September 2014

KOMPOL PATAHUDDIN : ANTARA KEKERASAN , NARASI KECIL , DAN KATALISATOR


Baru-baru ini kita dikejutkan oleh peristiwa dikepungnya rumah seorang Komisaris Polisi yang bernama Patahuddin oleh Ratusan warga di daerah Tinumbu Kel.Pannampu Kec.Tallo kota Makassar , yang disebabkan oleh aksi kekerasan yang dilakukan oleh oknum Perwira Polisi ini terhadap seorang warga yang bernama Mukhtar. Kompol Patahuddin marah karena  Mukhtar memarkir mobil didepan rumahnya sehingga Mukhtar dipukuli dan ditampar dan akhirnya  Mukhtar melaporkannya kepada warga sekitar . Ratusan Warga sekitar kemudian datang mengepung dan menyerang rumah Kompol Patahuddin dengan beringas. Pada akhirnya Polisi harus menembakkan gas air mata untuk mengevakuasi Kompol Patahuddin dari massa yang semakin liar. Kompol Patahuddin memang dikenal sangat ringan tangan dan kerap melakukan aksi kekerasan terhadap warga sekitar dimana pada akhirnya kekesalan warga memuncak dalam peristiwa tersebut.

Seorang Polisi memang punya sebuah “kuasa” untuk mengendalikan ketertiban masyarakat namun “Kuasa” itu harus berjalan dalam koridornya. Aparat kita tampaknya lebih banyak menggunakan “Kuasa” nya untuk konstruksi dan konsumsi pribadi yang kebanyakan melalui terror dan kekerasan. Kompol Patahuddin adalah sebuah representasi dari sebuah narasi besar dalam kehidupan bermasyarakat yaitu terror(ancaman) dan kekerasan . Sebagai Apparatus kenegaraan Kompol Patahuddin mungkin merasa bahwa status sosialnya itu lebih tinggi daripada masyarakat sekitarnya sehingga dia dengan congkak mengatur lalu lintas Hukum bagi masyarakat . Kompol Patahuddin adalah satu dari sekian banyak contoh aparat yang bertindak seakan-akan hukum ada dikedua tangannya. Hukum bukanlah milik seorang aparat , hukum adalah representasi dari  kedaulatan rakyat  apalagi seorang aparat adalah pelayan bagi berlangsungnya kedaulatan rakyat itu . Hukum tunduk pada tempat darimana dia berasal yaitu rakyat yang berdaulat , maka sangat aneh apabila ada oknum yang merasa memiliki hukum itu dan memperlakukan hukum itu seperti sebuah pisau untuk memotong siapa saja hanya karena statusnya sebagai aparat penegak hukum. Mental teladan aparat kita sudah tereduksi dan bertransformasi menjadi mental penjajah dimana aparat kita dengan seenaknya memperlakukan hukum sebagai alat yang mengabdi bagi kepentingan dirinya. Itulah cermin absolutisme aparat , pada yang absolut maka kekuasaan akan diperlakukan secara pribadi dan pada yang absolut, Kekuatan akan digunakan untuk menindas yang lemah.
“Kedaulatan rakyat”, adalah kata yang tepat untuk mewakili kekuatan besar yang membuat massa bergerak dan melakukan perlawanan terhadap perbuatan Kompol Patahuddin. People power yang luar biasa ini bergerak keluar dari dalam kesadaran masyarakat dan terwujud dalam gerakan untuk melawan yang “Berkuasa” . Dalam diri rakyat ada sebuah narasi kecil yaitu “Keinginan untuk lepas dari Sang Absolut-Otoriter” dan Narasi itu bergabung dengan narasi kecil yang sama dengan ratusan pemilik narasi kecil lain (Rakyat) sehingga berubah menjadi “Kesadaran emansipatoris” yaitu kesadaran untuk bebas dari belenggu penindasan . Perbuatan Kompol Patahuddin yang kerap melakukan tindakan kekerasan dan ancaman terhadap warga , menyisakan sebuah lubang yang dalam dalam kesadaran warga disekitarnya, lubang itupun terisi dengan berbagai macam derita dan cerita tentang ketertindasan. Cerita dan derita itu mengisi hari-hari warga dan saling merangkai satu sama lain dengan narasi kecil untuk lepas dari “Yang Berkuasa”. Jalinan cerita dan derita itu menjadi sebuah endapan yang sangat tebal dalam kesadaran diri warga , sampai pada akhirnya endapan itu sudah memenuhi kesadarannya sehingga endapan itu tumpah menjadi sebuah perlawanan.
Aksi = Reaksi , begitulah kira-kira bunyi salah satu hukum Fisika Newton , Tindakan Kompol Patahuddin yang mengancam dan represif terhadap warga sekitar membuat  warga sekitar juga melakukan hal yang sama terhadap kompol Patahuddin . Massa mengepung dan melakukan tindakan represif terhadap Kompol Patahuddin, Aset-aset yang lain seperti Rumah dan Mobil juga menjadi bulan-bulanan warga. Bagi warga , itu adalah harga yang harus dibayar mahal bagi terror dan kekerasan yang mereka alami sekian lama. Berbagai lapisan masyarakat terlarut dalam sebuah “Imagine Society” atau “Masyarakat Pikiran” dimana warga yang berbeda secara struktural dan Kultural bergabung dalam sebuah gerakan massa yang dipersatukan oleh sebuah endapan kesadaran dan berubah menjadi sebuah “People Power” atau “Kedaulatan Rakyat”.
Katalisator dalam Bidang Kimia adalah suatu zat yang mempercepat reaksi , dalam Narasi Kompol Patahuddin , Perbuatannya yang menganiaya Mukhtar hanya karena memarkir mobil didepan rumahnya menjadi Katalisator dari kesadaran warga sekitar. Bak gayung bersambut, dari laporan itu kesadaran warga bertransformasi menjadi sebuah “People Power”. Narasi kecil itu menyeruak ke permukaan dan menjadi sebuah kekuatan yang sangat besar. Keberanian dan Kekuatan itu hadir melalui sebuah “pemikiran” yang telah melalui cerita yang sangat panjang , ibarat bara api yang menyala akibat sebuah letupan kecil. Mungkin Kompol Patahuddin tak mengira hal ini akan terjadi , tapi yakinlah apa yang ditanam maka itu pula lah yang akan kita tuai. Tindakan-tindakannya menjadi sebuah benih dalam kesadaran warga yang tumbuh dan berkembang selaras dengan perbuatan-perbuatannya yang lain dari waktu ke waktu sampai pada akhirnya benih itu tumbuh dan berbuah menjadi “Buah Perlawanan”.
Ini adalah sebuah pelajaran bagi para “Pemegang Kuasa” bahwa “kekuasaan” semata-mata mengabdi pada kepentingan rakyat . Domain dari sebuah “kekuasaan” adalah “kedaulatan rakyat” oleh karenanya kekuasaan harus kembali kepada rakyat pula. Seandainya Kompol Patahuddin menjadi seorang warga sekaligus perwira polisi yang semata-mata melayani kepentingan rakyat disekitarnya maka peristiwa ini tak akan terjadi. Aparat harus sadar bahwa rakyat membiayai pajak bukan untuk membuat aparat memperlakukannya seenaknnya tapi untuk melayaninya dengan baik .Aparat harus sadar bahwa kehidupannya ada karena ditunjang oleh biaya yang dikeluarkan oleh rakyat dimana Hak dan Kewajiban harus ditempatkan dalam koridornya masing-masing. Bagi rakyat , ini membuktikan bahwa mereka betul-betul punya sebuah “Power” untuk membuat para “Pemegang Kuasa” ingat bahwa ada kekuatan besar didalam sana yang siap keluar kapan saja ketika “Kekuasaanya” tidak digunakan sesuai dengan semestinya. Hanya dengan sedikit dorongan dan katalisasi maka semuanya akan menjadi mungkin.


Posted By Ayub Gazali20:56

Thursday, 11 September 2014

MEMBANGUN PERTANIAN DARI TIMUR INDONESIA

-Tulisan Ini pernah diterbitkan di Tabloid Nasional " Inspirasi" Edisi 25 Agustus 2014 , Vol.5 No.99-


“Agriculture is about alive or dead…”

“I ask you : while Indonesian people in the near future will suffer from misfortune, disaster, if the problem of people’s food will not be solved immediately, whereas the problem of people’s Availability stocks is about alive or dead, how do with your groups? Why did only 120 and 7 students register at the faculty of agriculture and faculty of veterinary medicine, respectively? No, my young people, study in agriculture and veterinary sciences is not less important than other studies, is not less satisfied for the high aspiration-souls than other studies. Bear in mind, once more bear in mind, if we do not “bear in mind” the problem of people food as highty as is possible, radically and revolutionarily, we will suffer from great disaster.”
(Pidato Presiden RI Soekarno pada peresmian Kampus IPB, 1952)

Sumber daya alam (SDA) yang  terdiri dari kondisi geografis serta keanekaragaman hayati yang sangat berlimpah menunjukkan betapa potensialnya negeri kita untuk sektor pertanian namun justru kondisi pertanian negeri ini tak kunjung membaik dan menunjukkan geliatnya . Ironi disebuah negeri agraris yang kaya ketika pertanian yang sejak dahulu kala menjadikan negeri kita sebagai salah satu pusat perdagangan dunia seakan-akan menggali lubang kuburnya sendiri . Impor yang kian tahun terus-menerus naik dan bertambah dengan alasan tidak mencukupi kebutuhan nasional terus dilakukan kian menjadi indikator carut-marutnya pertanian di Indonesia . Sebenarnya banyak alternatif yang bisa menyelesaikan berbagai masalah tersebut , salah satu diantaranya adalah pemanfaatan potensi pertanian di berbagai wilayah secara optimal . Banyak wilayah yang mempunyai potensi luar biasa di Indonesia namun cenderung kurang di perhatikan dan dimanfaatkan misalnya wilayah Indonesia bagian Timur .
Potensi sumber daya alam (SDA) Di berbagai wilayah Indonesia Timur sesungguhnya masih banyak namun belum terlalu dikembangkan padahal sejatinya potensi tersebut merupakan potensi yang sangat besar. Indonesia Timur menyimpan berbagai Keanekaragaman hayati yang didukung dengan kondisi geografis berupa Iklim Tropis dengan  curah hujan yang merata sepanjang tahun , dataran tinggi dan dataran rendah , Intensitas Cahaya  Matahari , keaneka ragaman jenis tanah yang memungkinkan dibudidayakannya berbagai jenis tanaman serta ternak dari daerah tropis, serta komoditas tanaman yang diintroduksi dari daerah sub tropis. Kawasan Timur Indonesia yaitu Sulawesi ,Kepulauan Maluku, Nusa Tenggara dan Papua sejatinya mempunyai prospek yang tidak kalah bagus dalam pertanian dibanding daerah lainnya oleh karena itu pengembangan pertanian juga perlu dilakukan di kawasan timur Indonesia .
Pulau Sulawesi adalah pulau yang sangat potensial dalam berbagai pengembangan komoditas pertanian , variasi geografis serta iklim sangat mendukung hal tersebut. Ada beberapa komoditas yang sangat potensial di Sulawesi mulai dari tanaman pangan (padi,jagung,dsbg) , perkebunan(kopi ,cengkeh,kakao ,kelapa sawit, dsbg) , hortikultura (sayur-sayuran) dan buah-buahan . Hampir semua komoditas pertanian nasional bisa ditemukan di Pulau Sulawesi namun perlu pengawalann lebih lanjut terhadap komoditas tersebut karena beberapa program yang pernah dijalankan pemerintah misalnya Gernas Kakao , tidak terlalu berefek signifikan akibat kurangnya pengawalan terhadap program ini . Tanaman seperti kopi yang berkualitas internasional seharusnya perlu mendapatkan perhatian yang lebih dari pemerintah seperti Kopi Toraja misalnya . Selain itu komoditas pertanian yang lain yang cenderung bersifat lokal dan spesifik kerap dikesampingkan padahal komoditas pertanian tersebut bisa memperkaya variasi komoditas pertanian kita.
Kepulauan Maluku komoditas pertanian utamanya adalah Cengkeh , Pala , Kelapa Sawit , Kakao dan kelapa sedangkan komoditas pendukung/alternatif adalah Kayu Putih , Kayu manis ,Sagu , Rambutan , Pisang , Duku , dan manggis Manggis. Wilayah Kep.Maluku , dalam sejarah ramai dikunjungi oleh pedagang dari berbagi belahan dunia utamanya Portugis dan Spanyol yang datang membeli rempah-rempah dimana oleh mereka Kep.Maluku diberi gelar “Pulau Rempah-rempah”. Rempah-rempah di Kep.Maluku seperti cengkeh dan pala bernilai sangat tinggi , sehingga potensi pertanian seperti Cengkeh dan buah pala bisa dikembangkan lebih lanjut disana dan bisa dijadikan sebagai sentra bagi komoditas rempah-rempah di Indonesia dengan menggunakan stretegi pewilayahan komoditas serta didukung oleh pengetahuan dan pengalaman masyarakat Kep.Maluku yang telah berinteraksi dengan tanaman tersebut selama hampir ribuan tahun dalam membudidayakannya dan  pemerintah maka segalanya menjadi mungkin dan Kep.Maluku bisa jadi sentra rempah-rempah Indonesia bahkan Dunia. Wilayah kepulauan Maluku sangat mendukung komoditas pertanian yang menghendaki iklim yang basah .


Papua daerahnya hampir sekitar 80% hutan tersimpan beraneka ragam potensi pertanian dan kehutanan yang  sangat kaya berasal dari keanekaragaman hayati , namun pemanfaatan keanekaragman hayati berupa tumbuhan , kurang terlalu dikembangkan dan dilakukan eksplorasi serta penelitian lebih lanjut. Dataran Papua yang berupa Dataran Tinggi dan Dataran rendah sangat mendukung berbagai macam varisi Komoditas Pertanian selain itu Potensi perkayuan , hasil hutan , dan perkebunan sangat besar di papua mengingat luas hutan disana yang cukup besar beserta bentang alam serta kondisi geografis yang tropis yang sangat mendukung . Hasil pertanian utama papua adalah tanaman perkebunan yaitu sawit ,kakao ,kopi , ,dan buah merah sedangkan hasil hutannya berupa kayu , dan sagu,  selain itu tanaman hortikultura berupa sayur-mayur dataran tinggi (Kubis, Wortel, Kentang , dan Bawang Putih selain itu ada komoditas pendukung yaitu  Padi Sawah dan Padi Gogo , kedelai ,Umbi-umbian( singkong ,Talas ,Dan ubi jalar) Serta aneka buah-buahan seperti Durian , dan duku mempunyai potensi besar untuk dikembangkan di Papua . Luas wilayah dan bentang alam yang bergunung dan curam menyababkan papua sangat sulit untuk dijelajahi ,sehingga masih banyak daerah yang belum dieksplorasi dan besar  kemungkinan penemuan spesies tanaman baru yang berguna di bidang pangan , farmasi , serta bidang kehutanan . Wilayah Papua mendukung komoditas Pertanian yang menghendaki Iklim Basah maupun Kering .
Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur lebih dikenal sebagai daerah peternakan (Ruminansia)dan  kadang kurang dihitung sebagai wilayah dengan komoditas Pertanian dan Kehutanan namun sebenarnya disana juga tersimpan potensi yang sangat besar untuk dimanfaatkan diantaranya Kayu Cendana dan Kacang-kacangan (Kedelai dan Kacang Hijau) , apalagi kayu Cendana yang bernilai sangat tinggi selain itu tanaman industri seperti tembakau juga mempunyai prospek yang bagus untuk dikembangkan di Nusa Tenggara. Tanaman Alternatif yang bisa dikembangkan di Nusa Tenggara adalah Sayuran Dataran Tinggi (NTB) , Bawang Merah dan Bawang Putih serta Buah-buahan seperti Pisang dan Mangga . Wilayah Nusa tenggara sangat mendukung komoditas yang menghendaki iklim yang kering .
Pengembangan Indonesia Timur sebagai daerah komoditas pertanian diharapkan bisa menjadi alternative solusi bagi kebijakan pertanian nasional . Selama ini pemerintah sering menerapkan kebijakan Impor untuk mencukupi kebutuhan nasional padahal di daerah Indonesia sebenarnya banyak potensi pengembangan komoditas yang bisa mencukupi kebutuhan nasional  bahkan bisa menjadi surplus nasional . Kasus kelangkaan kedelai beberapa tahun yang lalu bisa menjadi contoh yang menarik ketika di wilayah Indonesia bagian barat harga kedelai melonjak sangat jauh , di beberapa bagian wilayah Indonesia timur harga kedelai justru sangat stabil  hal ini membuktikan bahwa produksi pertanian kedelai di Indonesia Timur justru lebih stabil dan potensial ,untuk itu perlulah pemerintah mulai mengalihkan perhatian pada prospek pengembangan komoditas di Indonesia bagian timur. Dibandingkan wilayah lain lahan pertanian di Indonesia Timur lebih berpotensi untuk dibuka dan dikembangkan karena laju pertumbuhan dan kepadatan penduduk belum terlalu signifikan dibandingkan Indonesia bagian Barat sehingga area terbuka untuk lahan pertanian masih banyak serta alih fungsi lahan belum terlalu besar .
Peranan Pelaku pertanian (SDM Pertanian) sebagai subjek pertanian  bisa dimaksimalkan melalui penentuan kebijakan yang bersifat gabungan antara Bottom-up dan Top-down yang sangat bagus untuk diterapkan di Indonesia Timur , kebijakan bottom-up (Bawah-Keatas) merupakan kebijakan dimana seluruh keputusan diambil secara bersama oleh subjek pertanian (Petani) dalam hal ini petani di Indonesia Timur merupakan petani yang masih bersifat egaliter dalam artian mempunyai nilai sosial-budaya yang sangat tinggi bahkan praktek kebijakan yang bersifat bottom-up telah berlangsung sejak lama , dengan kebijakan bottom-up pengetahuan petani utamanya pengetahuan yang bersifat lokal bisa dimanfaatkan dan dioptimalkan sehingga akumulasi nilai sosial-budaya dan pengetahuan petani akan menjadi senjata untuk meningkatkan kesejahteraannya. Petani sebagai pelaku utama pertanian tentunya mewarisi pengetahuan dan nilai-nilai praktek pertanian yang telah berlangsung berabad-abad lamanya , pengetahuan dan nilai sosial-budaya seperti ini sangat jarang mendapatkan perhatian dari pemerintah . Kebijakan bersifat Top-down merupakan kebijakan dimana pemerintah mengambil keputusan untuk pelaksanaan pertanian , di Indonesia Timur kebijakan yang bersifat Top-down bisa diarahkan untuk membangun struktur dan infrastruktur pertanian serta peraturan perundang-undangan yang betul-betul melindungi petani . Berbagai masalah pertanian yang paling akrab adalah konflik lahan dengan korporasi , pemerintah dengan tegas harus membuat kebijakan yang melindungi petani dari berbgaia macam ancaman. Dengan kombinasi keduanya diharapkan pembangunan pertanian di Indonesia Timur dapat dioptimalkan dengan baik sehingga sektor pertanian bisa kembali menggeliat dan petani menjadi sejahtera . Kesajahteraan petani adalah kesejahteraan bangsa dan Negara karena pertanian adalah tentang hidup matinya suatu bangsa , ketika pertanian Indonesia mati maka mati pulalah bangsa kita.

Posted By Ayub Gazali04:16

Saturday, 30 August 2014

MENGGUGAT PENGKADERAN : GAGALNYA LEMBAGA KEMAHASISWAAN DALAM MENJAWAB SPIRIT ZAMAN

Tulisan Ini Pernah Dimuat di Koran Kampus IDENTITAS Edisi Akhir September 2014

If I can not dance on it, that’s not my revolution” 
(Emma Goldman) 

Dalam mitologi yunani Kronus (Chronos) Sang Dewa Waktu akan memakan habis mereka yang menolak perubahan , perubahan adalah hukum besi sejarah maka mereka yang menolak untuk berubah akan ditelan oleh sejarah bahkan Filosof besar Jerman , G.W.F. Hegel melihat kebenaran adalah sebuah aliran(perubahan) dimana sejarah bergerak menurut hukum dialektika (Roh Absolut Hegelian). Dalam skala Lembaga Kemahasiswaan pengkaderan merupakan tafsir perubahan , pengkaderan haruslah berupa jawaban bagi aliran perubahan zaman sehingga setiap insan dalam lembaga kemahasiswaan dapat menerjemahkan setiap perubahan pada gerakan ruang dan waktu dalam masyarakat dan menghasilkan para “Anak Zaman”. Kini Lembaga kemahasiswaan sepertinya tak mampu lagi menjawab spirit zaman (Zetgeist) dan terjebak dalam nihilisme dan sekiranya seperti itu pengkaderan haruslah kita gugat .
                Di era ini pengkaderan semakin terfragmentasi dan perlahan menghilang nilai kesakralannya , pengkaderan sekedar simbolitas-ritual rutin yang mirip menjadi ajang gagah-gagahan dan audisi pencarian bakat , pengkaderan semakin serba tertutup dan terjebak dalam romantisme masa lalu sehingga pengkaderan kian menemui kelokan dalam setiap peristiwa dan waktu yang dilaluinya . Pengkaderan cenderung bergerak dalam aliran yang melambat sehingga cenderung tertinggal oleh aliran perubahan maka Tatanan dalam lembaga kemahasiswaanpun terguncang dan mengalami ancaman keruntuhan (Collapse) , beberapa medan kekuatan  menyebabkan lembaga kemahasiswaan dan pengkaderannya sedang tidak-stabil dan melambat yaitu , Pertama goncangan politik , dimana terbuka lebarnya kran demokrasi menyebabkan elit-politik sangat mudah untuk bersimbiosis dengan agen lembaga kemahasiswaan ditambah sistem semi-otoriter (senior-junior) yang berlaku dalam lembaga kemahasiswaan menjadikannya sangat rentan untuk dipengaruhi oleh kekuatan politik . Rantai panjang antara senior dan junior menjadi barang dagangan bagi elit politik , kekuatan mahasiswa menjadi harga yang menggiurkan untuk dimanfaatkan dan ditarik dalam pertarungan kepentingan , lembaga kemahasiswaan yang dulunya mengutamakan politik nilai kini ditarik kedalam politik pragmatis dan praktis yang sarat kepentingan pribadi . Kedua , Goncangan Ideologi , dimana tumbuh suburnya lahan pemikiran pasca-reformasi ditambah akses pengetahuan yang semakin luas di era digital membuat variasi pengetahuan dan ideologi dalam lembaga kemahasiswaan menjadi sangat luas , Lembaga kemahasiswaan sebagai ruang publik menjadi ajang pertarungan ideologi bagi para anggotanya yang bertarung memperebutkan kekuatan dan pengaruh sehingga nilai dan ciri khas lembaga dikesampingkan dan menjadi nilai pinggiran sedangkan nilai ideologi diutamakan  sehingga secara perlahan lembaga kemahasiswaan menjadi tercemar dan kehilangan arah akibat nilai yang saling bertabrakan. Ketiga , Goncangan Romantisme sejarah , dimana lembaga kemahasiswaan terjebak pada aliran masa lalu dimana mahasiswa menemukan kejayaannya dalam berbagai peristiwa , nilai-nilai dan peristiwa masa lalu dijadikan tolak ukur bagi setiap arah persepsi dan tindakan sehingga , hal tersebut justru menjadi boomerang bagi lembaga yang seharusnya memberikan jawaban bagi perubahan , metode-metode lama yang digunakan tidak mampu menjawab tantangan zaman sehingga benturan antara masa lalu yang mengendap dan perubahan zaman yang terpampang didepan mata menjadi sangat dilematis dan tak terhindarkan . Keempat Goncangan Kapitalisme-Instrumental dimana Perkembangan kapitalisme dan teknologi membuat lembaga kemahsiswaan terjebak dalam logika komoditas dan arus teknologis , kampus seperti mall dan menjadi ajang pamer serta ajang peragaan gaya hidup , mahasiswa terpaku pada arus modal dan teknologi dalam arus perputaran yang sangat cepat , digitalisasi aspek kehidupan , perputaran informasi , dan perkembangan teknologi yang terus menari dengan kecepatan membuat pemaknaan terhadap realitas menjadi sangat dangkal . Realitas yang seharusnya menjadi tempat belajar kini menjadi taman bermain dan bersenang-senang bagi mahasiswa , yah realitas bukan lagi untuk dirubah tapi untuk dinikmati bagi para agen kelembagaan. Kelima Goncangan akademik dan kesempatan berlembaga , dimana kultur akademik dan birokrasi yang berparadigma parsial-kuantitatif mengantarkan lembaga dalam kondisi yang terjepit dan dalam pilihan yang dilematis antara akademik atau lembaga , sehingga polarisasi keduanya tak terhindarkan lagi dan berubah menjadi kutub yang sulit berdampingan dan beriringan. Tertutupnya sistem pengkaderan  menyebabkan kesempatan berlembaga juga ikut berkurang sehingga potensi-potensi yang ada cenderung tersembunyikan dan terpinggirkan. Goncangan-goncangan tersebut menghambat lembaga kemahasiswaan dan pengkaderannya untuk menjadi mesin intelektual-ideal sehingga lambat merespon realitas perubahan yang terjadi.
Kita harus menggugat pengkaderan dan  merekonstruksinya kembali sehingga dengan ini pengkaderan akan menjadi titik utama dalam pencapaian  kebenaran dan mengajukan interupsi terhadap realitas . Pengkaderan harusnya menghasilkan hasrat kebenaran yaitu Logika, Pemberontakan , Universalitas dan Resiko sehingga  empat aspek  yang harus ada dalam pengkaderan yaitu Aspek Logika dimana Pengkaderan selalu mengandung rasionalitas atau pemikiran yang terus berubah dan berkembang sesuai jamannya , Aspek Pemberontakan dimana pengkaderan selalu merupakan bentuk perlawanan dan konfrontasi terhadap dunia dan zaman yang  dihadapinya , Aspek Universalitas dimana pengkaderan selalu mengandung pemikiran yang universal dan holistik serta saling terkait selain itu pengkaderan selalu menganggap semua manusia universal dan sederajat , Aspek Resiko yaitu pengkaderan harus melepaskan diri dari zona nyaman yang anti perubahan dengan mengambil resiko dari perubahan dan mengambil keputusan yang mendukung sudut pandang baru. Selain itu pengkaderan harus menghasilkan empat bentuk kebenaran yaitu Revolusi , Hasrat , Penemuan , dan Kreasi dengan domain utamanya berupa Ilmu pengetahuan , Seni , Cinta dan Politik dengan kesemuannya itu maka pengkaderan bisa menunjukkan kekuatan utamanya dalam diri Lembaga mahasiswa sehingga insan-insan lembaga kemahasiswaan bergerak melawan tantangan zaman .


Pengkaderan adalah jiwa dari lembaga kemahasiswaan karena itu, pengkederan haruslah terus berproses dan bergerak mengikuti dan melampaui aliran waktu . Tergerusnya pengkaderan menyebabkan urgensi kelembagaan juga terpinggirkan sehingga lembaga hanya mempunyai 2 pilihan yaitu  Lembaga harus merekonstruksi sistem pengkaderan yang ada  atau tergerus oleh arus waktu dan runtuh (Collapse). Pendekatan yang dapat dipakai dalam mengembalikan urgensi kelembagaan yaitu dengan membawa  , Pertama Emansipasi Pengetahuan dimana nilai dari suatu pengkaderan haruslah merupakan pengetahuan yang bersifat emansipatoris atau membebaskan setiap insan dari belenggu ketertindasan yaitu berciri rasionalitas (kreatif) dan kebebasan (aktif)  , sehingga insan yang terbentuk adalah agen intelektual yang aktif dan kreatif. Kedua Interdisplin ilmu yang Holistik , dimana paradigma pengkaderan haruslah merupakan interdisiplin ilmu dan interkonektivitas aspek sehingga realitas yang dipahami merupakan realitas yang holistik dan menyeluruh seperti paradigma sains baru (Paradigma Holistik - Fritjof Capra dan Mullah Shadra) . Ketiga Intervensi Moralitas , dimana pengkaderan haruslah menanamkan nilai-nilai dan mengintervensi moralitas , dengan mengupayakan terciptanya jagad egaliter sehingga tercipta ruang publik yang tak memihak dan  berciri kemasyarakatan . Keempat Idealisme politika dimana pengkaderan mengandung adalah pembelajaran politik yang ideal sehingga tercipta iklim kelembagaan yang nyaman . Kelima Independensia orientasi dimana output pengkaderan adalah independen dan tidak terjebak dengan berbagai hal apapun diluar dirinya sehingga terlepas dari berbagai pertarungan , output pengkaderan harus melepaskan semua terompah-terompah nya yang tidak berhubungan dengan orientasi lembaga sehingga menjaga lembaga tetap dalam koridor keunikannya. Keenam Akademika-variatif dimana pengkaderan haruslah bersifat akademik dan mendukung berbagai variasi dalam anggotanya terutama dalam minat dan bakat , lembaga harus mendorong setiap minat dan bakat anggotanya bukannya membatasi dalam setiap gerak individual.
Hal utama yang harus segera dilakukan oleh lembaga kemahasiswaan sekarang ini adalah membawa ranah pengkaderan kearah yang lebih dekat dengan realitas , pengkaderan harus berubah sehingga lembaga kemahasiswaan dapat melakukan interupsi dan mengajukan perlambatan bagi realitas , bukan justru lembaga yang terjebak dan  melambat . Pengkaderan sekarang ini membuat distingsi (jarak) dengan realitas disekitarnya sehingga perubahan menjadi sesuatu yang tidak memungkinkan dan amat sangat sulit . Pengkaderan harus membawa insan mahasiswa menjadi sangat dekat dengan realitas bahkan menjadi realitas itu sendiri (becoming the reality) sehingga realitas dapat terwakili olehnya dengan modal kritis-akademis yang dimiliki serta pendekatan dan aspek pengkaderan yang telah dipaparkan maka pengkaderan sebagai roh lembaga kemahasiswaan bisa menjadi spirit zaman dan menghasilkan para “Anak Zaman”.  Metode mendekatkan diri dengan realitas disekitarnya sekiranya bisa menjadi solusi terbaik bagi kehidupan mahasiswa sekarang ini , dengan ikut serta menjadi realitas maka mahasiswa bekerja bersama  dengan realitas disekitarnya dan menjadi penerjemah segala gagasan yang bersifat akademik maupun ideal bersama dengan pengetahuan lokal-simbolik masyarakat sehingga kombinasi antara kultur akademik dan kultur simbolik menjadi Senjata terdepan dalam meyongsong tantangan zaman. Yah !! Mahasiswa harus turun ke dalam realitas dan turut serta untuk mengubah dan mengintervensi realitas apapun bentuknya jika tidak maka kita akan ditelan oleh Zaman dan runtuh . Bergeraklah mahasiswa !!! berdansa lah bersama realitas dan ubahlah dia (revolusi).

Posted By Ayub Gazali18:36

Monday, 23 June 2014

KERUSAKAN LINGKUNGAN : RETAKNYA HUBUNGAN MANUSIA DAN ALAM

Filled under:


Manusia adalah makhluk yang sangat unik , manusia bukan sekedar ada didunia , tapi dia juga eksist , manusia adalah makhluk yang berada di dalam sekaligus diluar alam semesta dalam artian disatu sisi manusia adalah bagian alam semesta namun juga punya kemampuan untuk mengubah alam semesta , manusia amat berbeda dengan makhluk lainnya , seperti ungkapan Jean Paul Sartre ,manusia adalah etre pour soi , makhluk yang ada bagi dirinya (exist) sedangkan makhluk lainnya adalah etre en soi  atau ada pada dirinya (ada). Kemampuan manusia yang bersifat ambivalen ini membuat manusia menjadi makhluk paling maju dan beradab . 

Peradaban manusia merupakan hasil interaksi ekologis dan sosiologis manusia bahkan sepanjang zaman berbagai peradaban manusia terus bergerak tumbuh , hilang , dan berganti , alam semesta pun juga bergerak namun alam semesta kian mengalami keretakan dan ketidakseimbangan , sehingga  berbagai bencana alam , krisis lingkungan , krisis pangan , dan sebagainya  mengancam kelangsungan hidup manusia di masa depan .Hal ini disebabkan oleh Prilaku Manusia dalam berinteraksi dengan alam .
 
Manusia dan alam mempunyai relasi dan keterikatan yang sangat kuat yang terwujud dalam “Pertukaran Metabolik” yaitu manusia dan alam mengalami pertukaran material misalnya dalam pembusukan biologis  (kotoran) akan berubah menjadi unsur hara dalam tanah dan  kembali tumbuh bersama tanaman yang mengandung nutrisi dan kembali dimakan oleh manusia dimana manusia dan alam saling terikat dalam proses tersebut , selain itu Sirkulasi CO2 Dan O2 oleh Manusia dan tumbuhan juga menjelaskan pertukaran metabolik tersebut . John Bellamy Foster (Ekologi Marx Materialisme dan Alam : 2010) menganalisis penyebab kerusakan lingkungan , yang disebutnya sebagai “Keretakan Metabolik” dimana intervensi manusia terhadap alam terjadi dengan sangat berlebihan , yang diawali oleh Kajian Justus Von Liebig (Hukum Liebig- pencetus pupuk dan pestisida) dimana terjadi  pengintervensian lingkungan yang berlebihan dengan penggunaan “bahan kimia” terhadap alam yaitu pupuk dan pestisida yang kemudian membuka potensi yang besar bagi revolusi pertanian . Intervensi manusia dalam bentuk penggunaan pupuk dan pestisida secara berlebihan oleh manusia menyebabkan degradasi tanah , pencemaran, dan berbagai kerusakan lingkungan lain . Hubungan intrinsik (saling membutuhkan) antara manusia dan alam pun terganggu dengan hal tersebut , hal ini tak lepas dari kepentingan Kapitalisme yang selalu mementingkan keuntungan semata tanpa mempertimbngkan faktor ekologis (hubungan manusia dan alam) . Untuk memacu produksi dan keuntungan dilakukanlah berbagai cara yang singkat dan jangka pendek  utamanya adalah penggunaan bahan kimia oleh karena itu teknologi kiwiawi dipacu terus-menerus bahkan hingga sekarang , sehingga keretakan ekologis tak dapat dielakkan lagi .

 (http://biologiumum.com/wp-content/uploads/2014/02/Kerusakan-lingkungan.jpg)

Selain mengganggu pertukaran metabolik , Berbagai bahan kimia yang digunakan menyebabkan faktor yang sangat acak dan sulit untuk diprediksi lantas menyebar ke alam dengan sangat cepat , selain itu bahan kimia tersebut juga sulit untuk terurai sehingga menyebabkan berbagai efek lain misalnya sisa-sisa pestisida  dan Pupuk Kimia yang bisa menurunkan kualitas tanah . Setiap Makhluk hidup mempunyai peran sendiri dalam alam Rantai Ekologis termasuk  Hama , penggunaan pestisida justru membuat kesimbangan ekologis terganggu  salah satu contoh nyata adalah pemusnahan spesises makhluk hidup tertentu yang menyebabkan Ledakan (Resurjensi) Hama seperti Kasus Ulat Bulu dan Tomcat di Pulau Jawa beberapa waktu lalu dimana makhluk hidup tersebut kehilangan habitat dan makannya oleh pestisida . Sisa-sisa (residu) pestisida yang sulit terurai di alam  juga menyebar dengan cepat melalui perantara angin dan air berpotensi meracuni makhluk hidup sekitarnya dan terus menerus menyebabkan efek berantai yang sulit dipastikan (Butterfly Effect) . Pupuk kimia juga bisa merusak komposisi tanah , membunuh organisme tanah , dan mengganggu komposisi tanah sehingga berpotensi besar merusak kualitas tanah . Kasus kerusakan akibat bahan kimia diuraikan sangat jelas oleh Isabelle Delforge (Dusta Industri Pangan : 2005) dan  Kini ancaman kerusakan ekologis akibat dari “keretakan metabolik” ini menjadi semakin nyata dan harus kita hadapi bersama .
Manusia dan Alam seharusnya bisa mengalami Evolusi bersama (Co-Evolution) yaitu hubungan yang bersifat dialektis antara manusia dan alam untuk terus “maju bersama” dan “saling memperbaharui” seperti konsep “pertukaran metabolik” , jadi seharusnya ada keseimbangan hubungan antara manusia dan alam melalui “konsep kerja” dimana manusia mencukupi kebutuhan hidupnya dari alam dan bersikap bijak terhadapnya . Jared Diamond (Collapse : 2013) mengambarkan bagaimana perilaku manusia dalam berinteraksi dengan alam sangat berpengaruh terhadap Runtuhnya peradaban manusia , misalnya Kasus Penggundulan Hutan di Pulau Paskah (Polinesia) , yang disebabkan oleh Struktur Sosial ( Kapitalisme Primitif) dimana Kaul elite (Raja , Kepala Suku ) menebang habis kayu dengan tujuan pendirian monumen (Patung) dan rumah pribadi . Kasus Masyarakat Anzasi di AS , dan Runtuhnya Peradaban Maya di Semenanjung Yucatan juga mempunyai sebab yang hampir sama , yaitu Kerusakan Lingkungan yang sangat parah , dimana masyarakatnya sangat tidak bijak dalam berinteraksi dengan lingkungan dengan mengeksploitasi SDA dengan berlebihan dan bersifat jangka pendek , sehingga tantangan akibat kerusakan lingkungan itu tidak dapat mereka atasi yang menyebabkan peradaban manusia disana runtuh dan ditinggalkan . Keruntuhan perdaban masyarakat masa lalu seharusnya menyediakan pelajaran berharga bagi kita semua bagaimana mengelola alam dengan bijak dan tepat .
Ancaman Kerusakan Lingkungan semakin besar kedepannya dan akan terus berlanjut , Berbagai peristiwa bencana alam , krisis lingkungan , krisis pangan , global warming seperti dalam film Al-Gore (An Inconvenient Truth : 2006) , dan banyak kejadian lain semakin menuntun umat manusia menuju kepunahan . Kaum Enviromentalis dan Non-Enviromentalis terus-menerus terlarut dalam debat kusir antara melestarikan alam ataukah melestarikan manusia dan kini kita dihadapkan pada masalah terbesar yang dihadapi oleh umat manusia . Lembah Bitteroot di Montana seperti yang dianalisis oleh Jared Diamond (Collapse : 2013) menyediakan contoh kasus kerusakan lingkungan kontemporer dengan berbagai Variabel yang sangat terkait dan sangat kompleks . Manusia kini akan menghadapi masa depan yang lebih menantang dan dituntut lebih cerdas dan bijak dalam krisis terbesar yang akan kita hadapi , Kasus-kasus runtuhnya peradaban Masa lalu serta Kasus Lembah Bitteroot Montana menyediakan pelajaran yang sangat berharga bagi kita semua . Masa depan umat manusia akan tergantung pada jawaban terhadap permasalahan kompleks mengenai Alam .

Posted By Ayub Gazali02:27

Tuesday, 10 June 2014

RETAKAN PADA DUNIA KITA

“Dia Yang Mengkonsumsi Begitu Banyak Berita
Tak punya Waktu untuk  Merebus dan Menggoreng ,
Dan dipaksa Menelan Semuanya Bulat-bulat”

Tor Age Bringsvaared
(Pria Yang Mengumpulkan 1973)

Anthony Giddens pernah berkata bahwa Dunia modern ini seperti “Juggernaut” sebuah Makhluk Buas  Raksasa yang siap melindas siapa saja , dan bisa kemana saja , bahkan bisa lepas kendali , dunia kita adalah sebuah dunia yang tunggang langgang dan berlari . Kehidupan sejahtera yang kita damba-dambakan tampaknya hanya bisa menjadi mimpi indah yang wajib kita tangisi tapi itu bukan karena keindahannya , tapi tampaknya mimpi itu tidak akan pernah bisa terwujud . Gejala-gejala masyarakat modern yang cenderung destruktif mengisyaratkan bahwa betapa sistem sosial yang kita hidupi bersama tengah mengalami kebuntuan dan syndrome yang sangat akut , Masyarakat kita saat ini seperti “Juggernaut” , hal ini tampak pada prilaku masyarakat kita yang cenderung buas , liar , ganas , bengis dan sangat Anarki . Ketidakstabilan sosial yang kita alami tampaknya telah mencapai tahap yang sangat tinggi dimana , ekologi , Ekonomi ,politik , Sosial , dan budaya telah terjangkit penyakit yang amat misterius , Penyakit yang akan membawa masyarakat kepada kematiannya .
                Seharusnya  dunia ini menghasilkan kepastian dan ilmu pengetahuan namun Dunia ini justru menghasilkan ketidakpastian dan keragu-raguan  itulah yang dikatakan oleh David Peat diaman Sains,teknologi  , serta Modal produk paling mukhtahir manusia (Kapitalisme) justru membawa manusia pada sebuah jurang yang sangat luas dan dalam , yang menyebabkan patahan dan retakan pada dunia kita

Ada beberapa Medan (Kekuatan) yang menyebabkan retakan pada dunia kita :

Medan Sains-Positivistik, dimana sejak Rene Descartes mengutarakan “ Cogito ergo sum” , dimana terdapat pembedaan antara “Res Cogitans” dan “Res extensa” , Dimana subjek bernalar  merupakan pijakan bagi “Ada” , karena hanya manusialah subjek berpikir , maka sejak itu pula  subjek berpikir ini menjadi raja bagi alam semesta , Manusia menjadi makhluk agung yang “Ada” sehingga Alam semesta yang dipahami hanyalah “Res Extensa” atau objek bagi manusia yang bebas untuk dieksploitasi dan digunakan bagi manusia . Dominasi ilmu positivistik  dimana Isaac Newton yang mereduksi mekanika alam semesta layaknya mesin , menjadikan alam semesta layaknya mesin raksasa yang bisa dimanfaatkan sedemikian rupa dan prinsip-prinsip mesin  tersebut bisa diaplikasikan di dunia manusia . Alam semesta yang seyogyanya adalah lokus kehidupan kini bergeser menjadi objek pelampiasan manusia , manusia kini menjadikan alam seenaknya sehingga , berbagai kejadian seperti banjir , letusan gunung dan berbagai proses alam lainnya meniscayakan bahwa alam sedang bergerak kearah yang homeostatis atau bergerak menuju titik keseimbangan akibat kerusakan yang disebabkan oleh manusia namun manusia menuduhnya sebagai  “bencana” .


sumber (http://v-images2.antarafoto.com/g-pr/1322137501/anarkis-01.jpg)

Medan Teknologi-instrumentalistik dimana Perkembangan teknologi dan instrument menjadi sangat pesat dan cepat dimana mulai muncul beberapa teknologi instrumen muktahir seperti TV, Handphone, dan internet yang memang cukup membantu , namun disisi lain itulah yang justru membuat manusia “Ter-Mediasi” dalam segala-galanya seperti yang diramalkan oleh Herbert Marcuse segalanya menjadi Otomatisasi dan mekanisasi , termediasi sesama manusia , termediasi dengan sistem , dan yang paling parah adalah termediasi oleh realitas , sehingga membawa kita kepada “Keterlupaan” terhadap realitas . Bagi Jurgen Habermans komunikasilah yang terdistorsi , namun ini bukanlah justru sekedar distorsi komunikasi tapi distorsi kehidupan itu sendiri . Disisi lain , Kehidupan mulai beralih fungsi menjadi kehidupan yang bersifat yang ”Hyper-Real” seperti yang dimaksud oleh Jean Baudrillard dimana kehidupan yang abstrak menjadi nyata , dan yang nyata menjadi abstrak  , seolah-olah Dunia-dunia ciptaan seperti media sosial yang menjadi ruang kehidupan nyata bagi  kita dan begitupun sebaliknya . Teknologi modern menjadikan  Ruang dan waktu kini terlipat sehingga menyebabkan nilai-nilai yang menjadi pijakan dalam membangun peradaban juga ikut terlipat  itulah yang disebutkan oleh Yasraf Amir Piliang , nilai-nilai yang dulu kita percayai sebagai penuntun kini mulai goyah , sistem yang menjadi perwujudan nilai tak lagi bisa menjawab berbagai persoalan , layaknya saluran got yang sedang mampat dan macet , Terlipatnya ruang dan waktu membuat dunia benar-benar terlanjang , perputaran teknologi dan informasi yang begitu cepat melalui benar-benar menyebabkan pemaknaan kehidupan hampir mati , percepatan kehidupan membuat kita menelan semuanya bulat-bulat tanpa ada jeda dan pemaknaan . Hidup menjadi hampir tak berniali lagi .
Medan Kapitalisme-Individualistik , di Tanah Britania Sejak John Locke , David Hume , dkk memprolamirkan liberalisme yang dimana meniscayakan kebebasan individu , disisi lain  Adam Smith , David Ricardo , dkk yang memperluas gagasan liberal ke ranah ekonomi yang kemudian melahirkan Doktrin Liberal-Kapital yang meniscayakan Privatisasi  dan keuntungan . Revolusi industrilah yang menjadi puncak dari narasi kapitalisme-liberal , namun disisi lain para kelas pekerja disana berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan dan dalam kondisi yang tidak manusiawi sehingga Marx muncul membangkitkan fajar baru kemanusiaan dan melawan segala ekses kapitalisme dengan sosialisme , namun runtuhnya Tembok Berlin dijadikan simbol berakhirnya sosialisme sekaligus perang ideologi selama bertahun-tahun dan Kapitalisme tampil sebagai ideologi dominan sampai sekarang . Privatisasi dan Kapitalisme kini menjajah dunia kita , manusia yang berpunya kini menjadi raja bagi dunia , dan kaum tidak berpunya menanggung ribuan beban , mereka seperti Drakula penghisap darah yang sangat rakus dan menghisap segala manusia , dengannya maka hancur pula nilai-nilai Egaliter-sosial yang dibangun sejak zaman dulu , nilai-nilai sosial manusia kini bergeser menjadi lebih transaksional bahkan manusia direduksi menjadi homo economicus , kemampuan manusia hanya dinilai dari seberapa jauh dia bisa menghasilkan keuntungan . Kini manusia yang tidak punya hak privat harus terpinggirkan dari dunia modern bahkan terus menjadi budak bagi manusia lain , inilah Hukum Rimba , yang bermodal dan kuat akan menang dan yang tidak bermodal dan lemah akan kalah .
Kita benar-benar dikuasai oleh system yang kita buat . Mark Horkheimer dan Theodore W. Adorno , (Dialektics of Enlighment) mengatakan bahwa dunia modern dimana ilmu pengetahuan yang seharusnya membawa manusia kepada pencerahan (enligthment) justru membawa manusia kembali kepada zaman kegelapan , system yang kita buat benar-benar sedang tercemar , akibatnya masyarakat benar-benar keracunan dan hampir sekarat . Keretakan –keretakan dunia sosial paling gandrung cenderung menyebabkan anarki masyarakat , namun anarkisme masyarakat bukanlah disebabkan karena ada yang bermasalah pada individu , tapi memang mengisyaratkan bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan masyarakat kita , munculnya kelompok-kelompok sosial , sekte-sekte , kaum-kaum fundamentalis dan berbagai golongan adalah sebuah tanda bahwa masyarakat mulai tidak percaya dengan system yang mereka hidupi . Munculnya berbagai kelompok adalah bentuk dari “mekanisme pertahanan diri” akibat dari system yang sangat tertutup dan betul-betul tidak memberi jawaban atas berbagai persoalan kehidupan , Kelompok-kelompok sosial mulai membuat sebuah “Jarak” (Distingsi) atau pembeda dengan system maupun kelompok lainnya .

Adakah sebuah masa depan untuk kita ? ataukah lagi-lagi kita justru terus menerus mengalami nhilisme , ataukah kita perlu melakukan interupsi ? Mari kita jawab bersama . 

Posted By Ayub Gazali02:24